Advertisements

Benarkah Keturunan Nabi Muhammad SAW Terputus?

Ada segelintir orang bahkan Ustad yang menganggap keturunan Nabi terputus. Pendapat mereka ini sama dgn pendapat orang2 kafir Mekkah dalam surat Al Kautsar:

“Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” [Al Kautsar 3]

Kaum kafir Quraisy menganggap kematian anak laki-laki berarti putus turunan. Ketika putra Rasulullah saw. meninggal, al-‘Ashi bin Wa’il berkata bahwa Muhammaad terputus turunannya. Maka ayat ini (S.108:3) sebagai bantahan terhadap ucapannya itu.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi.)

Ketika wafat Ibrahim putra Rasulullah saw. orang-orang musyrik berkata satu sama lain: “Orang murtad itu (Muhammad) telah terputus keturunannya tadi malam.” Allah menurunkan ayat ini (S.108:1-3) yang membantah ucapan mereka.
(Diriwayatkan oleh at-Thabarani dengan sanad yang dha’if yang bersumber dari Abi Ayyub.)

Jadi jika ada orang2 Islam yang menganggap Nabi keturunan terputus, mereka itu sama dgn orang2 kafir / Musyrik Mekkah yang sebetulnya sudah dibantah oleh Allah SWT.

Khusus Nabi Muhammad, keturunannya itu lewat Sayyidina Ali dgn Fatimah yg melahirkan Hasan dan Husein. Dari Hasan dan Husein inilah berkembang keturunan Nabi.

Imam Mahdi yang memerangi Dajjal di akhir zaman itu berasal dari keturunan Nabi. Jadi jika kita tidak percaya Nabi punya keturunan, bagaimana kita bisa bergabung dalam pasukan Imam Mahdi? Mau gabung dgn pasukan Dajjal?

Telah bersabda Rasulullah SAW:

“Al-Mahdi berasal dari umatku, dari keturunan anak cucuku.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim)

Sholawat Allohumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad itu seumpama dgn Allohumma sholli ‘ala Ibrohim wa ‘ala aali Ibrohim. Nabi Ibrahim dan keluarganya diberkahi Allah. Ini tak terbatas pada Nabi Ibrahim, istri, dan anaknya saja, tapi hingga keturunannya yang lahir ribuan tahun setelah Nabi Ibrahim wafat seperti Nabi Musa, Nabi Daud, Sulayman, Isa, dan juga Nabi Muhammad SAW.

Nah keluarga Nabi ini bukan cuma Nabi, istri, dan anaknya. Tapi juga keturunannya dari Siti Fatimah yang jaraknya ribuan tahun seperti Habib Rizieq Syihab, Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf, Habib Umar bin Hafidz, dsb. Itu semua keluarga Nabi. Keturunan Nabi.

Dari Jabir ra berkata: “Rasululah saw bersabda : Sesungguhnya Allah telah menjadikan keturunan setiap nabi dalam sulbinya masing-masing dan sesungguhnya Allah menjadikan keturunanku dalam sulbi Ali bin Abi Thalib”.(HR Thabrani)

Rasulullah Saw bersabda:
“Semua bani Untsa (manusia) mempunyai ikatan keturunan ke ayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka kepadakulah bersambung ikatan keturunan mereka dan akulah ayah-ayah mereka.” (HR. At Tobroni)

Imam Suyuti dalam kitab Al-Jami’ As-Shoghir juz 2 halaman 92 menerangkan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
“Semua Bani Adam (manusia) mempunyai ikatan keturunan dari ayah, kecuali anak-anak Fathimah, maka akulah ayah mereka dan akulah Asobah mereka (ikatan keturunan mereka).” (HR. At Tobroni dan Abu Ya’la)

Begitu pula Syech Muhammad Abduh dalam tafsir Al Manar menerangkan, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
“Semua anak Adam (manusia) bernasab (ikatan keturunan) keayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka.”

Memuliakan Ahli Bait / Keturunan Nabi Muhammad SAW
Saya lihat saat ini banyak orang yang menghina Ahli Bait / Keturunan Nabi Muhammad yang di Jakarta ini biasa disebut dengan gelar “Habib”. Keturunan Nabi Muhammad juga lazim disebut Sayyid/Sayyidah dan Syarif/Syarifah

Padahal di setiap sholat kita selalu berdoa di dalam Tahiyat agar Nabi Muhammad dan Keluarganya senantiasa diberi penghormatan. Allohumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad. Ya Allah, berilah penghormatan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Kelak Imam Mahdi yang akan muncul berasal dari keturunan Nabi Muhammad. Ahli Hadits, Imam Nawawi dalam kitabnya Riyadush Sholihin juga menafsirkan bahwa 2 ayat Al Qur’an di bawah berkaitan dengan keluarga/keturunan Nabi Muhammad:

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menghendaki akan menghilangkan kotoran daripadamu semua, hai ahlul bait -yakni keluarga Rasulullah- dan membersihkan engkau semua dengan sebersih-bersihnya.” (al- Ahzab: 33)

Allah Ta’ala berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang memuliakan tanda-tanda suci -agama Allah-, maka sesungguhnya yang sedemikian itu adalah menunjukkan ketaqwaan hati.” (al-Haj:32)

Bagaimanapun buruknya pandangan kita terhadap keturunan Nabi yang biasa disebut Habib, ingatlah, bahwa di dalam darah mereka mengalir kemuliaan darah Nabi Muhammad yang merupakan manusia paling baik di dunia ini. Darah orang yang telah menyampaikan kita kepada nikmat Islam dan Iman.

Janganlah kita sombong seperti Iblis yang merasa lebih baik, lebih pintar, dan lebih mulia daripada Adam sehingga akhirnya dilaknat Allah dan diusir dari surga.

Memuliakan Ahli Baitnya Rasulullah s.a.w. Dan Menerangkan Keutamaan Mereka
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menghendaki akan menghilangkan kotoran daripadamu semua, hai ahlul bait -yakni keluarga Rasulullah- dan membersihkan engkau semua dengan sebersih-bersihnya.” (al- Ahzab: 33)

Allah Ta’ala berfirman lagi: “Dan barangsiapa yang memuliakan tanda-tanda suci -agama Allah-, maka sesungguhnya yang sedemikian itu adalah menunjukkan ketaqwaan hati.” (al-Haj:32)

Keterangan:

Ahli bait Rasulullah s.a.w., yang di dalamnya termasuk pula zurriyah atau keturunannya dan yang dalam hukum Agama Islam sama sekali tidak boleh diberi sedekah dan merekapun haram pula menerimanya apabila diberi, di negeri kita pada umumnya diberi nama “Sayyid” bagi yang lelaki dan “Sayyidah” bagi yang wanita. Golongan Syarif atau Syarifah itu adalah dari keturunan Sayidina Hasan r.a. Adapun jika dari keturunan Sayidina Husain r.a., maka diberi nama “Sayyid” bagi yang lelaki dan “Sayyidah” bagi yang perempuan. Makna sebenarnya, sayyid adalah pemuka dari kata Saada Yasuudu, artinya mengepalai atau mengetuai, sedang Syarif artinya adalah orang yang mulia dari kata Syarufe Yasyrufu, maknanya mulia. Dalam hadits yang tertera di bavvah ini tercantum suatu anjuran kepada kita semua, agar kita memuliakan kepada golongan mereka, tetapi ini tidak bererti bahwa kita tidak perlu memuliakan kepada golongan selain mereka itu. Perihal penghormatan terhadap siapa pun juga manusianya, tetap wajib. Jadi dalam hal penghormatan sama sekali tidak ada diskriminasi atau perbedaan, baik mengenai caranya, menemui atau berhadapan dengannya dan lain-lain lagi. Jadi jikalau diantara golongan mereka ada yang meminta supaya dimuliakan lebih dari golongan selain mereka, maka hal itu tidak dapat dibenarkan, sebab manusia yang termulia di sisi Allah hanyalah yang terlebih ketaqwaannya kepada Allah Ta’ala itu belaka. Sebagian golongan ada yang menggunakan ayat di bawah ini sebagai nash atau dalil bahwa Nabi Muhammad s.a.w. menyuruh umatnya agar keturunan beliau s.a.w. lebih dimuliakan, lebih dihormati dan dialu-alukan daripada golongan lainnya. Ayat yang digunakan pedoman itu ialah yang berbunyi: “Katakanlah -wahai Muhammad-! Untuk ajakan itu, aku tidak meminta upah atau bayaran kepadamu semua, melainkan kekasih sayangan terhadap keluarga”. (asy-Syura:23) Oleh sementara golongan, keluarga yang wajib dikasih sayangi ialah keluarga Rasulullah s.a.w., dengan makna bahwa mereka yang diberi nama Sayyid, Sayyidah, Syarif atau Syarifah itu wajib lebih dimuliakan dan dihormati melebihi yang lain. Jadi makna Alqurbaa dikhususkan kepada keturunan Sayidina Hasan dan Sayidina Husain radhiallahu ‘anhuma yang keduanya itu putera Sayidina Ali r.a. dan istrinya bernama Sayidatina Fathima radhiallahu ‘anha yakni puteri Rasulullah s.a.w. Tetapi beberapa ahli tafsir menjelaskan bahwa makna dari lafaz Alqurbaa itu bukan dikhususkan untuk golongan keturunan Sayidina Hasan serta Sayidina Husain r.a. itu saja. Baiklah kita meneliti sejenak apa yang dijelaskan dalam Ash-Shawi, sebuah hasyiyah dari Tafsir Jalalain dan hasyiyah atau kupasan tersebut ditulis oleh Imam Ahmad ash-Shawi al-Maliki. Di antara kupasannya mengenai lafaz Alqurbaa beliau berkata:

“Para ahli tafsir sama berselisih pendapat dalam memberikan makna ayat ini,” yang dimaksudkan ialah “kasih sayang pada keluarga, sehingga jumlah pendapat itu menjadi tiga macam. Selanjutnya secara ringkasnya beliau menyatakan:

Kekeluargaan.

Kerabat atau rasa kefamilian antara seluruh kaum muslimin.

Mentaqarrubkan atau mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan amal perbuatan yang baik dan diridhai olehNya.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Abu Bakar as-Shiddiq r.a. dalam sebuah hadits mauquf ‘alaih, bahwasanya dia berkata: “Intailah Muhammad s.a.w. dalam ahli baitnya.” (Riwayat Bukhari) Maknanya Urqubuhu ialah jagalah dan hormati serta memuliakanlah ia, dengan menghormati serta memuliakan ahli baitnya Rasulullah s.a.w. itu. Wallahu a’lam

Advertisements

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: