Media Islam, Islam, Allah, Muhammad

Kategori

Pemboros itu Saudaranya Setan

Bermewah-mewahan bukan ajaran Islam

”Berikanlah hartamu kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros.

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [Al Israa’:26-27]

Pemboros itu Saudaranya Setan. Demikian firman Allah.

Pantas saja. Saya saksikan sendiri bahwa orang yang pemboros / hidup mewah cenderung serakah. Menzalimi hak orang lain. Seorang pembantu yang boros dengan HP mahal dsb bisa mencuri harta majikannya. Seorang karyawan dan pejabat bisa korupsi. Sementara para pengusaha bisa menzalimi karyawannya dengan gaji di bawah UMR atau tidak mau membayar lembur karyawannya.

Oleh sebab itu hendaknya kita hidup sederhana. Qana’ah. Merasa cukup atas apa yang ada.

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2011/11/21/salahkah-pejabat-bermewah-mewahan-di-tengah-kemiskinan-rakyat/comment-page-1/

Kaya boleh.

Tapi hendaknya tetap sederhana.

Saat Umar ra memasuki kamar Nabi: Aku lalu segera masuk menemui Rasulullah saw. yang sedang berbaring di atas sebuah tikar. Aku duduk di dekatnya lalu beliau menurunkan kain sarungnya dan tidak ada sesuatu lain yang menutupi beliau selain kain itu. Terlihatlah tikar telah meninggalkan bekas di tubuh beliau. Kemudian aku melayangkan pandangan ke sekitar kamar beliau. Tiba-tiba aku melihat segenggam gandum kira-kira seberat satu sha‘ dan daun penyamak kulit di salah satu sudut kamar serta sehelai kulit binatang yang belum sempurna disamak. Seketika kedua mataku meneteskan air mata tanpa dapat kutahan.

Rasulullah bertanya: Apakah yang membuatmu menangis, wahai putra Khathab?

Aku menjawab: Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis, tikar itu telah membekas di pinggangmu dan tempat ini aku tidak melihat yang lain dari apa yang telah aku lihat. Sementara kaisar Romawi dan raja Persia bergelimang buah-buahan dan sungai-sungai sedangkan engkau adalah utusan Allah dan hamba pilihan-Nya hanya berada dalam sebuah kamar pengasingan seperti ini.

Rasulullah saw. lalu bersabda: Wahai putra Khathab, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka? Aku menjawab: Tentu saja aku rela…” (Shahih Muslim No.2704)

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/10/16/hidup-sederhana-menurut-islam/

Advertisements

Tinggalkan Balasan