Nabi pun Bermusyawarah

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu” [Ali ‘Imran 159]

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” [Asy Syura 38]

Saya lihat sebagian Muslim cenderung taqlid buta kepada Syekh2 / Guru2 mereka. Bahkan cenderung menTuhankannya. Apa yang pemimpin mereka suruh, langsung dijalankan tanpa ada protes sedikit pun meski ternyata bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits dan menzalimi sesama Muslim. Akhirnya mereka mengkafirkan dan membunuh sesama Muslim. Para ulama Al Azhar pun mereka hina dan kafirkan.

Ada yang dengan alasan Tsiqoh, Sami’na wa atho’na akhirnya taqlid buta kepada Ulama. Kalau Ulama yg baik mending. Ini Ulama Su’ / Jahat yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah seperti menyuruh membunuh sesama Muslim: Meski demikian, kita tidak boleh taqlid buta kepada para ulama. Khususnya para Ulama Firqoh/Sempalan yang pendapatnya bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits serta Jumhur Ulama:

Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. ” [Al Maa-idah:63]

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. ” [At Taubah:31]

 Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2013/05/27/menghormati-dan-mengikuti-ulama-pewaris-nabi

Meski Muhammad adalah seorang Nabi, namun beliau bukanlah diktator yang tidak bisa didebat. Beliau selalu bermusyawarah. Para sahabat pun jika merasa Nabi ada yang keliru, berani mengingatkan Nabi. Contohnya Umar bin Khoththob ra melihat Nabi mensholati jenazah tokoh Munafik Abdullah bin ‘Ubay dengan gigih “memprotes” Nabi. Dan ternyata Allah melalui Al Qur’an membenarkan protes Sayyidina Umar ra:

Umar ibnul Khaththab r.a. berkata, “Ketika Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal, Rasulullah diminta datang untuk menshalati jenazahnya. Ketika Rasulullah berdiri untuk shalat, aku melompat kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau shalat untuk anak si Ubay itu, padahal pada hari ini dan hari ini dia mengatakan begini dan begitu?’ Lalu aku sebutkan kepada beliau semua perkara nya itu. Rasulullah tersenyum dan bersabda, “Hai Umar, biarkanlah aku.’ Setelah berulang-ulang aku mengatakan, maka beliau bersabda, “Sesungguhnya aku boleh memilih, maka aku telah memilih. Sekiranya aku tahu, kalau aku mohonkan ampunan baginya lebih dari tujuh kali, niscaya dia akan diampuni, tentu aku akan menambahnya.”Umar berkata, “Kemudian Rasulullah menshalati jenazah Abdullah bin Ubay, lalu salam. Tetapi, tidak beberapa lama sesudah itu, turunlah ayat 84 surah at-Taubah (Bara’ah), “walaa tushalli “alaa ahadin minhum maata abadan walaa taqum “alaa qabrihi innahum kafaruu billaahi warasuulihi wamaatuu wahum faasiquun’ “janganlah kamu sekali-kali menshalati (jenazah) orang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.’ Umar berkata, “Maka, aku merasa heran sesudah turunnya ayat itu, mengapa aku begitu berani kepada Rasulullah pada hari itu. Allah lebih mengetahui.€ [HR Bukhari]

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2013/06/25/sikap-nabi-terhadap-munafiq-khawarij-dan-orang-kafir/

Tidak ada kemelaratan yang lebih parah dari kebodohan dan tidak ada harta (kekayaan) yang lebih bermanfaat dari kesempurnaan akal. Tidak ada kesendirian yang lebih terisolir dari ujub (rasa angkuh) dan tidak ada tolong-menolong yang lebih kokoh dari musyawarah. Tidak ada kesempurnaan akal melebihi perencanaan (yang baik dan matang) dan tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari akhlak yang luhur. Tidak ada wara’ yang lebih baik dari menjaga diri (memelihara harga dan kehormatan diri), dan tidak ada ibadah yang lebih mengesankan dari tafakur (berpikir), serta tidak ada iman yang lebih sempurna dari sifat malu dan sabar. (HR. Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)

Dari Hadits yg diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim kita lihat betapa Khalifah Umar ra begitu giat bermusyawarah. Saat menghadapi hal yang kontroversial, dia panggil kaum Muhajirin, kaum Anshor, Sesepuh Quraisy, dan para sahabat lain untuk bermusyawarah. Sehingga akhirnya didapat keputusan yang terbaik.
Itulah ajaran Islam: Musyawarah. Brainstorm! Bukan cuma seorang diktator saja yang berpikir, sementara yang lain harus tunduk tanpa bisa protes:

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Umar bin al-Khaththab r.a. keluar berpergian ke Syam (Palestina), sehingga di waktu ia datang di Sarghu, dijemputlah ia oleh para pembesar tentara, yaitu Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan kawan-kawannya lalu mereka memberitahukan padanya bahwa di Syam timbul wabah penyakit tha’un -yakni kolera-.
Ibnu Abbas berkata: “Umar lalu berkata padaku: “Panggilkanlah kemari orang-orang dari golongan kaum muhajirin yang pertama kali -yakni orang-orang yang dahulu mengikuti jejak Rasulullah s.a.w. ketika berpindah dari Makkah ke Madinah-.” Saya mengundang mereka, lalu Umar meminta musyawarah -pertimbangan- dari mereka itu dan memberitahukan kepada mereka bahwa di Syam timbul wabah penyakit tha’un. Kaum muhajirin sama berselisih pendapat. Sebagian dari mereka berkata: “Anda keluar untuk melaksanakan sesuatu perkara dan kita tidak mempunyai pendapat untuk menyetujui Anda kembali.” Sebagian dari mereka ada pula yang berkata: “Bersama Anda ini juga banyak manusia yang lain-lain, juga para sahabat Rasulullah s.a.w. dan kita tidak berpendapat untuk menyetujui bahwa Anda akan mengajukan mereka itu untuk menjadi umpan wabah penyakit tersebut.” Umar lalu berkata: “Sekarang menyingkirlah dari tempatku ini!”

Selanjutnya ia berkata: “Panggilkanlah kemari orang-orang dari golongan kaum Anshar -yakni yang membela Rasulullah s.a.w. sedatangnya di Madinah dari Makkah-.” Saya memanggil mereka, lalu Umar meminta musyawarah kepada mereka dan mereka ini menempuh jalan sebagaimana halnya kaum muhajirin dan mereka berselisih pendapat seperti juga kaum muhajirin tadi. Umar lalu berkata: “Sekarang menyingkirlah dari tempatku ini!”

Seterusnya ia berkata: “Panggilkanlah kemari orang-orang tua Quraisy dari golongan orang-orang yang berpindah sehabis dibebaskannya Makkah.” Mereka saya panggil, kemudian ada dua orang yang tidak menyalahi akan pendapatnya -yakni hendak kembali-. Mereka berkata: “Kita berpendapat supaya Anda pulang saja dengan semua orang dan janganlah mengajukan mereka untuk menjadi umpan wabah penyakit itu.”

Umar kemudian berseru kepada seluruh manusia, katanya: “Sesungguhnya saya akan berpagi-pagi menaiki kendaraan -untuk kembali ke Madinah-, maka dari itu supaya Anda sekalian juga berpagi-pagi berangkat kembali.” Abu Ubaidah bin al-Jarrah r.a. berkata: “Adakah Anda kembali itu karena lari dari takdir Allah?” Umar r.a. berkata: “Alangkah baiknya kalau selain Anda yang mengeluarkan pembicaraan seperti itu, hai Abu Ubaidah.” Umar memang tidak senang kalau Abu Ubaidah menyalahi pendapatnya itu yang hendak kembali, lalu Umar berkata: “Ya, kita memang lari dari takdir Allah untuk menuju kepada takdir Allah pula. Tahukah Anda, andaikata Anda mempunyai seekor unta lalu ia turun di suatu jurang yang di kanan kirinya ada tepi berupa lembah. Lembah yang satu subur, sedang yang lainnya tandus. Tidakkah kalau unta itu tergembala di lembah yang subur, maka iapun tergembala dengan takdir Allah dan kalaupun ia tergembala di lembah yang tandus, iapun tergembala dengan takdir Allah pula?”

Ibnu Abbas berkata: “Selanjutnya datanglah Abdur Rahman bin Auf r.a. Ia di waktu itu sedang tidak ada karena mengurusi sesuatu hajatnya sendiri. Ia kemudian berkata: “Sesungguhnya saya mempunyai pengetahuan mengenai persoalan ini. Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jikalau engkau semua mendengar adanya wabah tha’un itu di sesuatu negeri, maka janganlah engkau semua datang di tempat itu. Tetapi jikalau wabah itu hinggap di sesuatu negeri, sedang engkau semua sedang berada di situ, maka janganlah engkau semua keluar dari negeri itu.” Umar r.a. lalu memuji syukur kepada Allah Ta’ala dan terus berangkat kembali pulang -ke Madinah-.” (Muttafaq ‘alaih)

Saat menghadapi berbagai masalah seperti Peperangan, Nabi dan para sahabat biasa bermusyawarah. Sehingga mereka bisa mencari solusi yang terbaik. Misalnya pada perang Khandaq / Parit, saat banyak pasukan musuh menyerang, mereka tidak melawan seperti biasa. Tapi membuat parit / khandaq di sekeliling kota Madinah sebagaimana yang diusulkan oleh Salman Al Farisi sesuai dengan taktik yang biasa dipakai di negaranya Persia dulu saat dikepung lawan. Dan memang ummat Islam akhirnya menang.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: