Infaq Dakwah

PayPal: agusnizami@yahoo.com.sg Rekening BCA 0061947069 a/n Agus Nizami

Twitter

Inilah Ciri-ciri Muslim Sejati : Ummat Islam berkasih sayang terhadap sesama, namun keras terhadap orang-orang kafir: mediaislamraya.blogspot.com/2…

Jadikan Mati Sebagai Penasehat

Banyak orang yang sengaja berbuat salah karena mereka lupa akan mati. Mereka tak segan mencuri, korupsi, merampok, bahkan membunuh untuk memenuhi nafsu duniawi. Padahal jika mereka senantiasa mengingat mati, niscaya mereka tidak akan seperti itu.

Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian. (HR. Ad-Dailami)

Cukuplah maut sebagai pelajaran (guru) dan keyakinan sebagai kekayaan. (HR. Ath-Thabrani)

Banyak juga orang yang galau, sedih, bahkan frustrasi atau depresi karena masalah dunia. Mereka merasa berada di dunia ini selama-lamanya. Sehingga berbagai masalah seperti patah hati, kemiskinan, kegagalan, itu akan menerpa mereka selama-lamanya. Padahal hidup di dunia ini hanya sementara. Jika mereka ingat akan mati, tentu mereka tidak akan merasa begitu sedih.

Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.” Nabi Saw lalu bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR. Ath-Thabrani)

Setiap yang bernyawa, termasuk manusia pasti akan merasakan mati. Dan kepada Allah-lah mereka akan kembali:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” [Al ’Ankabuut:57]

Setiap manusia pasti akan mati. Pada dasarnya kita semua akan mati. Namun jarang sekali kita memikirkan itu. Kita diuji bukan hanya dengan keburukan, tapi juga dengan kebaikan. Kita paham bahwa kemiskinan itu satu ujian. Tapi berapa banyak yang mengerti bahwa kekayaan itu juga satu cobaan? Berapa banyak orang-orang kaya yang gagal karena mereka tidak menyangka kekayaan mereka adalah cobaan dari Allah. Banyak yang menghabiskan hartanya untuk bermewah-mewahan, berzina, minum-minuman keras, berjudi, dan segala kemaksiatan lainnya. Kekayaan mereka tidak digunakan untuk menolong sesama atau pun membantu orang-orang yang berdakwah dan berjihad:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” [Al Anbiyaa’:35]

Hingga saat ini belum pernah ada manusia yang tidak pernah mati. Saat ini tidak ada orang yang berumur lebih dari 200 tahun dan belum mati.

Pada saat manusia diciptakan, Allah sudah menentukan ajal kematiannya. Kapan orang itu mati sudah ditetapkan:

”Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu)..”[Al An’aam:2]

Pada saat ajal/maut tiba, tidak ada seorang pun yang dapat memajukan atau memundurkan meski hanya sekejap:

”…Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak pula dapat memajukannya.” [Yunus:49]

Seseorang tidak akan mati kecuali jika Allah mengizinkan:

”Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya…” [Ali ’Imran:145]

Oleh sebab itu pada berbagai kecelakaan, pada berbagai bencana, ada orang yang mati, ada pula orang yang selamat dengan izin Allah.

Sebaliknya, jika saat kematian telah tiba, meski seseorang berlindung di dalam benteng yang kokoh, dilindungi jutaan pengawal, dirawat ribuan dokter, dia tetap akan mati:

”Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” [An Nisaa’:78]

Dalam ayat di bawah Allah menjelaskan, saat nafas sudah sampai di kerongkongan seseorang dan akan keluar, siapa yang dapat menyembuhkannya? Meski seluruh manusia dan jin bersatu (termasuk para dokter dan tabib), niscaya orang itu tidak akan sembuh dan meninggal dunia:

Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.” [Al Qiyaamah:26-30]

Orang yang zalim saat sakarotul maut amat tersiksa:

“…Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.” [Al An’aam:93]


Mereka ingin kembali hidup ke dunia agar bisa tobat dan beriman kepada Allah. Tapi hal itu sia-sia:

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)” [Al Mu’minuun:99]

Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.”

Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.” [As Sajdah:11-12]

Pada saat ajal menjelang / sakarotul maut, taubat tidak akan diterima. Banyak orang yang terus berbuat dosa dan menzalimi orang lain. Mereka menipu, mencopet, merampok, membunuh, menindas orang lain, dan sebagainya. Mereka tidak henti berbuat dosa dan baru akan bertobat ketika maut sudah di depan mata. Pada saat itu tobat sia-sia seperti tobatnya Fir’aun:

”Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” [An Nisaa’:18]

Banyak orang yang ketika sehat atau berkuasa tidak pernah memikirkan untuk bertobat. Padahal itulah saat yang terbaik.

Padahal maut itu niscaya akan datang meski kita berusaha untuk menghindar:

”Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” [Qaaf:19]

Orang yang zalim akan disiksa. Sebaliknya orang yang beriman dan banyak berbuat kebaikan, niscaya dimasukkan ke surga:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. ” [Ali ’Imran:185]

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dia akan mati. Bahkan seorang dokter di rumah sakit pun yang banyak melihat orang mati, belum tentu dia menyadari bahwa dia juga akan mati. Tidak sadar akan gelapnya alam kubur dan kengerian hari Akhir. Akibatnya dia lupa dan malas untuk beribadah kepada Allah SWT. Banyak juga orang yang melayat orang yang meninggal namun tidak ingat bahwa dia juga akan menyusul dan meninggal.

Oleh sebab itu hendaknya kita ingat bahwa kita akan meninggal dan bertemu dengan Allah, Raja dari segala Raja. Pada saat semua raja-raja, kaisar-kaisar, dan presiden-presiden sudah dimatikan dan dibangkitkan dari kubur, Hanya Allah yang berkuasa menaklukan segalanya:

”Dialah Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang mengutus Jibril dengan membawa perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan manusia tentang hari pertemuan (hari kiamat). Yaitu hari ketika mereka keluar dari kubur; tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. Lalu Allah berfirman: “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” [Al Mu’min:15-16]

Angan-angan manusia begitu panjang. Ada yang ingin hidup seribu tahun lagi. Ada yang ingin punya banyak uang, mobil mewah, rumah mewah, dan sebagainya. Kematian adalah garis pendek yang memotong garis angan-angan manusia yang sangat panjang:

Dari Anas r.a., katanya: “Nabi s.a.w. menggariskan beberapa garis, lalu beliau bersabda: “Ini adalah angan-angan manusia sedang ini adalah ajalnya. Kemudian di waktu orang itu sedang dalam keadaan sedemikian -yakni angan-angannya masih tetap panjang dan membubung tinggi-, tiba-tiba datanglah garis yang terpendek -yakni garis yang memotongnya yaitu kematian-.” (Riwayat Bukhari)

Saat kita mati, tidaklah bermanfaat segala macam uang, mobil mewah, rumah mewah, dan sebagainya:

Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Perbanyaklah olehmu semua akan mengingat-ingat kepada sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan -yaitu kematian-.” [HR Imam Tirmidzi] 

Tempat yang dipakai oleh mayit itu paling 1×2 meter. Bahkan jika keluarganya menyediakan kuburan yang luas misalnya 1 hektar, tidaklah bisa mayit tersebut memakainya untuk berjalan-jalan. Dia hanya tergeletak diam di satu tempat.

Hanya amal ibadah kita yang mengikuti kita ke  liang kubur:

Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada dasarnya uang yang kita pegang atau belanjakan untuk dunia, itu bukan uang kita. Uang yang kita pegang akan berpindah ke ahli waris kita. Ada pun uang yang kita belanjakan, berpindah ke para pedagang. Kita beli mobil, maka uang itu jadi uang penjual mobil. Kita beli rumah, uang itu berpindah ke penjual rumah. Hanya uang yang kita sedekahkan di jalan Allah seperti untuk membantu perjuangan dakwah dan jihad itulah yang benar-benar menjadi milik kita. Sebagai bekal agar kita bisa mendapatkan surga.

Jadi hendaknya kita senantiasa ingat akan mati. Jadikan Maut itu sebagai penasehat bagi kita agar kita tidak berbuat macam-macam. Rajin-rajinlah melayat orang yang meninggal karena itu akan mengingatkan kita akan mati. Nabi senantiasa ziarah kubur seminggu sekali dan mendoakan para ahli kubur dan juga dirinya saat mengunjungi istrinya Siti ‘Aisyah. Dengan itu, Nabi senantiasa ingat akan mati. Hendaknya kita juga rajin melakukan ziarah kubur makam orang-orang saleh atau keluarga kita agar kita bisa ingat mati. Berdoalah kepada Allah untuk keselamatan para ahli kubur dan juga diri kita sebagaimana yang disunnahkan oleh Nabi.

http://media-islam.or.id/2008/01/15/maut-atau-kematian

Tinggalkan Balasan