Infaq Dakwah

PayPal: agusnizami@yahoo.com.sg Rekening BCA 0061947069 a/n Agus Nizami

Twitter

Inilah Ciri-ciri Muslim Sejati : Ummat Islam berkasih sayang terhadap sesama, namun keras terhadap orang-orang kafir: mediaislamraya.blogspot.com/2…

Nabi Senang Mendamaikan. Bukan Mengadu-Domba dan Menghindari Peperangan

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” [Al Hujuraat 9]

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” [An Nisaa’ 114]

Ridho Allah lebih penting daripada ridho (segelintir) manusia.

Nabi lemah lembut dgn sesama Muslim dan keras thd orang kafir.
Nabi senang mendamaikan sesama Muslim. Bukan justru mengadu-domba mereka karena tidak akan masuk surga orang yang gemar mengadu-domba.

“Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak dapat masuk surga seorang yang gemar mengadu domba.” (Muttafaq ‘alaih)

Allah Ta’ala berfirman: “Jangan pula engkau mematuhi orang yang suka mencela, berjalan membuat adu domba.” (al-Qalam: 11)

Saat Bani ‘Aus dan Khazraj nyaris perang karena adu domba Yahudi yg mengungkit2 peperangan mereka tempo dulu, Nabi mendamaikannya. Nabi berhasil mendamaikan 2 suku yang biasa bermusuhan menjadi bersaudara di dalam Islam:

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” [Al Anfaal 63]

Saat Abu Bakar ra marah kepada saudaranya yang menyebar fitnah bahwa anaknya Siti ‘Aisyah berzina dan bersumpah tidak akan memberinya sedekah lagi, Nabi justru memintanya memaafkan. Kita mungkin akan mengkafirkan orang yang telah memfitnah Siti ‘Aisyah dengan tuduhan terkeji: Zina. Nabi pun harusnya sangat tersinggung sebab tuduhan apalagi yang lebih keji daripada zina terhadap seorang istri?

Namun Islam mengajarkan dakwah itu dilakukan dengan cara yang baik. Menyadarkan ummat islam. Bukan justru mengkafirkan mereka dan mengeluarkan mereka dari Islam:

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [An Nuur 22]

Saat ini banyak orang yang gemar berdusta untuk mengadu-domba sesama manusia. Tanpa meneliti kebenaran berita, mereka sebarkan dusta itu agar kita membenci satu kaum. Padahal itu dosa besar:

Nabi s.a.w. bersabda: “Tahukah engkau semua, apakah kedustaan besar itu? Yaitu Namimah atau banyak bicara adu domba antara para manusia.” (Riwayat Muslim)

Pada akhirnya Islam itu akan tergambar kepada kemuliaan akhlak:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” [Al Ahzab 21]

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu…” [Ali ‘Imran 159]

Saat para sahabat disiksa di Mekkah dan Nabi juga dihina seperti dilempari tahi unta bahkan hendak dibunuh, Nabi tidak meminta para sahabat memerangi mereka. Karena Nabi menghindari pertumpahan darah. Nabi memilih hijrah ke Madinah dan menghindari peperangan.

Saat diserang kaum kafir Quraisy di Madinah pun Nabi memilih bertahan membela diri pada perang Badar, perang Uhud, dan Perang Khandaq. Saat musuh kalah dan mundur, beliau tidak mengejar dan menghabisi mereka. Tapi membiarkan mereka lari menyelamatkan diri.

Setelah itu, baru Nabi menaklukkan kota Mekkah dengan Futuh Mekkah. Itu pun tidak dengan peperangan. Dan nyaris tidak ada korban jiwa. Ini karena Nabi bukanlah orang yang kejam dan haus darah.

Abu Sofyan dedengkot orang kafir yang jadi musuh bebuyutannya beliau hormati dan dijadikan sahabat. Hindun yang membunuh paman Nabi, Sayyidina Hamzah, dengan keji hingga tidak berbentuk lagi serta memakan jantungnya beliau maafkan. Padahal bisa saja beliau jadikan dia sebagai penjahat perang yang dihukum mati karena telah bertindak kejam melampaui batas. Nabi juga memaafkan Wahsyi yang membunuh paman beliau. Sehingga Wahsyi bisa jadi Muslim yang baik dan kelak tombaknya membunuh satu Musuh Islam yang mengaku sebagai Nabi, yaitu Musailamah Al Kazzab.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” [Fushshilat 34-35]

Saat Romawi membunuh seorang utusan Muslim pun Nabi sangat murka. Tapi Nabi tidak menyerang dan membantai orang-orang Romawi. Beliau hanya memimpin 30 ribu tentara Muslim ke Tabuk yang ada di perbatasan antara Romawi dan Islam. Beliau tunggu pasukan Romawi selama 20 hari di sana. Saat tentara Romawi tidak berani muncul, beliau pun pulang kembali ke Madinah. Jadi meski Nabi amat kuat dan ditakuti oleh para pemimpin kafir Quraisy, Yahudi, Romawi, dan Persia, namun beliau tidak semena-mena membabi-buta membunuh mereka. Itu karena beliau adalah Rahmatan lil ‘Alamin!

Jadi saya prihatin sekali saat ada sekelompok Muslim yang gemar menebar dusta dan fitnah untuk menebarkan peperangan dan pembantaian di antara sesama Muslim.

Tak jarang karena memaki dan membunuh sesama Muslim itu dosa karena kita justru diperintahkan menjaga Ukhuwah Islamiyyah dan orang-orang yang beriman itu bersaudara, mereka kafirkan dulu sesama Muslim. Setelah itu, baru mereka caci-maki dan mereka bunuh. Na’udzu billah min dzaalik.

Tidak pantas juga bagi seorang Muslim untuk mudah menganggap sesat atau mengkafirkan sesama Muslim yang masih sholat dan mengucapkan 2 kalimat syahadah. Jika begitu, maka mereka itu lemah imannya atau mungkin justru tidak punya iman:

Tiga perkara berasal dari iman: (1) Tidak mengkafirkan orang yang mengucapkan “Laailaaha illallah” karena suatu dosa yang dilakukannya atau mengeluarkannya dari Islam karena sesuatu perbuatan; (2) Jihad akan terus berlangsung semenjak Allah mengutusku sampai pada saat yang terakhir dari umat ini memerangi Dajjal tidak dapat dirubah oleh kezaliman seorang zalim atau keadilan seorang yang adil; (3) Beriman kepada takdir-takdir. (HR. Abu Dawud)

Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu [dan mengucapkan Tahlil]: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu [dulu mereka juga kafir], lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” [An Nisaa’ 94]

Di saat Usamah, sahabat Rasulullah saw, membunuh orang yang sedang mengucapkan, “Laa ilaaha illallaah, ” Nabi menyalahkannya dengan sabdanya, “Engkau bunuh dia, setelah dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah.” Usamah lalu berkata, “Dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah karena takut mati.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kamu mengetahui isi hatinya?” [HR Bukhari dan Muslim]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” [Al Hujuraat 11]

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [Al Hujuraat 12]

KeIslaman seseorang bukan cuma Hablum minallah (Hubungan dengan Allah) nya baik. Tapi Hablum Minan Naas (Hubungan dengan manusia) juga baik.

Seorang Muslim yang baik akan berkasih-sayang terhadap sesama Muslim. Tidak memusuhinya, memakinya, apalagi memeranginya:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” [Al Fath 29]

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” [Al Maa-idah 54]

http://media-islam.or.id/2011/11/30/haram-berteman-dengan-kafir-harbi-dan-membunuh-sesama-muslim

Jadi sayang sekali jika ummat Islam terus diadu-domba untuk memerangi sesama Muslim sehingga jutaan korban berjatuhan, sementara orang-orang Yahudi dan Nasrani di Palestina, Iraq, dan Afghanistan saat ini justru membantai jutaan ummat Islam di sana. Mereka aman dari gangguan lisan dan juga tangan dari ummat Islam yang seharusnya mencegah kezaliman mereka….

Coba lihat peta peperangan ummat Islam di Timur Tengah. Boleh dikata peperangan besar ummat Islam dari tahun 1980 itu terjadi di seluruh wilayah Timur Tengah, namun Israel justru aman dari gempuran ummat Islam. Paling-paling Israel cuma mendapat sedikit gangguan dari Milisi Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon. Oleh milisi kecil. Bukan oleh NEGARA Islam. Tak heran jika Israel bisa kurang ajar membantai ummat Islam di Palestina terus-menerus.

Saat Saddam Hussein menyerang Iran yang baru saja melakukan Revolusi Islam Iran di tahun 1980, negara-negara Arab pun mendukungnya. Perang Iran-Iraq berlangsung hingga tahun 1988. Tidak ada hasil yang didapat kecuali korban jiwa 1 juta orang di kedua belah pihak. Baik Sunni mau pun Syi’ah, Arab mau pun Persia, banyak yang terbunuh. Uang yang habis sia-sia US$ 1 trilyun. Bayangkan jika 1 juta orang tersebut dikerahkan untuk menyerang Israel, tentu Israel sudah hancur!

Saat Saddam menyerang Kuwait dan Arab Saudi, ini dibalas oleh negara-negara Arab dengan mengundang pasukan AS dan Sekutunya untuk menyerang Iraq. Menurut perkiraan 1 juta orang lebih tewas. Namun yang dibunuh oleh tentara AS dan Sekutunya hanya 150 ribu orang. Sebagian besar justru tewas akibat Sunni dan Syi’ah saling bunuh! Tentara AS dan Sekutunya yang tewas kurang dari 5000 orang.

Dengan adu domba dan adanya kelompok ekstrim yang dengan enteng mengkafirkan dan menghalalkan darah Muslim lainnya, kaum kafir seperti AS tidak perlu capek-capek membunuh ummat Islam karena mereka saling bunuh sendiri!

Saddam Hussein terlepas dari kekurangannya berhasil mendamaikan rakyatnya yang terdiri dari Sunni dan Syi’ah. Mungkin beliau membunuh beberapa ribu kelompok yang ekstrim. Tapi jelas berhasil mencegah saling bunuh antar rakyatnya yang mencapai hampir 1 juta jiwa. Sekarang Sunni dan Syi’ah mudah sekali diadu-domba hingga saling bunuh.

Di Libya, 30 ribu Muslim terbunuh akibat perang saudara. Di Suriah saat ini 10 ribu orang tewas akibat pemberontakan bersenjata oleh Ikhwanul Muslimin terhadap pemerintah Suriah. Dari pihak pemerintah Suriah yang tewas sekitar 3000 orang, sedang dari Ikhwanul Muslimin 7000 orang. Jika pemberontakan bersenjata Ikhwanul Muslimin diteruskan, mau jatuh korban berapa banyak lagi? 50 ribu? 100 ribu? Atau lebih?

Padahal Nabi terhadap kaum kafir Quraisy yang jelas kekafirannya dan jelas kezalimannya tidak mau memberontak yang bukan hanya menimbulkan korban di kalangan kafir, tapi juga ummat Islam. Beliau memilih hijrah ke Madinah untuk menyelamatkan ummatnya.

Allah sangat menghargai nyawa manusia. Allah memerintahkan kita untuk menjaganya:

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” [Al Maa-idah 32]

Jadi saat ummat Islam tertindas, jika memang dengan demo damai bisa mengganti pemerintah itu tidak masalah. Tapi jika harus mengorbankan puluhan ribu bahkan ratusan ribu ummat Islam, alangkah baiknya hijrah ke tempat yang lebih baik sehingga akhirnya bisa dibentuk pemerintah yang sesuai dengan Islam. Jangan sia-siakan nyawa ummat Islam dan berbuat kerusakan.

Sebagai contoh saat ini di Mesir katanya Salafi menguasai parlemen 10% sedang Ikhwanul Muslimin 48%. Nah mereka berdua mayoritas. Apalagi yang menghalangi mereka untuk menjadikan Mesir sebagai negara Islam? Begitu pula dengan Libya yang katanya pemberontak Libya itu adalah Muslim yang sejati. Akankah negara Islam tegak di negara itu, atau cuma sekedar jadi boneka Yahudi dan Nasrani?

3 comments to Nabi Senang Mendamaikan. Bukan Mengadu-Domba dan Menghindari Peperangan

Tinggalkan Balasan