Nabi Muhammad Manusia Paling Sempurna di Dunia

Infaq Dakwah

PayPal: agusnizami@yahoo.com.sg Rekening BCA 0061947069 a/n Agus Nizami

Twitter

Inilah Ciri-ciri Muslim Sejati : Ummat Islam berkasih sayang terhadap sesama, namun keras terhadap orang-orang kafir: mediaislamraya.blogspot.com/2…

Bukti Tuhan itu Ada

Beriman bahwa Tuhan itu ada adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata.

Benarkah Tuhan itu ada? Kita tidak pernah melihat Tuhan. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Tuhan. Karena itu, tidak heran jika orang-orang atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. Cuma khayalan orang belaka.

Ada kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat seorang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah: “Benarkah Tuhan itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”

Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheist dan para penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut.

“Maaf jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tak bisa menyeberang. Alhamdulillah tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. Setelah itu, baru saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” Begitu orang alim itu berkata.

Si Atheist dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang banyak, “Orang alim ini sudah gila rupanya. Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!” Orang banyak pun tertawa riuh.

Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata, “Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit, dan seisinya bisa ada tanpa penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu, atau menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini?”

Mendengar perkataan orang alim tersebut, akhirnya mereka sadar bahwa mereka telah terjebak oleh pernyataan mereka sendiri.

“Kalau begitu, jawab pertanyaanku yang kedua,” kata si Atheist. “Jika Tuhan itu ada, mengapa dia tidak kelihatan. Di mana Tuhan itu berada?” Orang atheist itu berpendapat, karena dia tidak pernah melihat Tuhan, maka Tuhan itu tidak ada.

Orang alim itu kemudian menampar pipi si atheist dengan keras, sehingga si atheist merasa kesakitan.

“Kenapa anda memukul saya? Sakit sekali.” Begitu si Atheist mengaduh.

Si Alim bertanya, “Ah mana ada sakit. Saya tidak melihat sakit. Di mana sakitnya?”

“Ini sakitnya di sini,” si Atheist menunjuk-nunjuk pipinya.

“Tidak, saya tidak melihat sakit. Apakah para hadirin melihat sakitnya?” Si Alim bertanya ke orang banyak.

Orang banyak berkata, “Tidak!”

“Nah, meski kita tidak bisa melihat sakit, bukan berarti sakit itu tidak ada. Begitu juga Tuhan. Karena kita tidak bisa melihat Tuhan, bukan berarti Tuhan itu tidak ada. Tuhan ada. Meski kita tidak bisa melihatNya, tapi kita bisa merasakan ciptaannya.” Demikian si Alim berkata.

Sederhana memang pembuktian orang alim tersebut. Tapi pernyataan bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena panca indera manusia tidak bisa mengetahui keberadaan Tuhan adalah pernyataan yang keliru.

Berapa banyak benda yang tidak bisa dilihat atau didengar manusia, tapi pada kenyataannya benda itu ada?

Betapa banyak benda langit yang jaraknya milyaran, bahkan mungkin trilyunan cahaya yang tidak pernah dilihat manusia, tapi benda itu sebenarnya ada?

Berapa banyak zakat berukuran molekul, bahkan nukleus (rambut dibelah 1 juta), sehingga manusia tak bisa melihatnya, ternyata benda itu ada? (manusia baru bisa melihatnya jika meletakan benda tersebut ke bawah mikroskop yang amat kuat).

Berapa banyak gelombang (entah radio, elektromagnetik. Listrik, dan lain-lain) yang tak bisa dilihat, tapi ternyata hal itu ada.

Benda itu ada, tapi panca indera manusia lah yang terbatas, sehingga tidak mengetahui keberadaannya.

Kemampuan manusia untuk melihat warna hanya terbatas pada beberapa frekuensi tertentu, demikian pula suara. Terkadang sinar yang amat menyilaukan bukan saja tak dapat dilihat, tapi dapat membutakan manusia. Demikian pula suara dengan frekuensi dan kekerasan tertentu selain ada yang tak bisa didengar juga ada yang mampu menghancurkan pendengaran manusia. Jika untuk mengetahui keberadaan ciptaan Allah saja manusia sudah mengalami kesulitan, apalagi untuk mengetahui keberadaan Sang Maha Pencipta!

Memang sulit membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Tapi jika kita melihat pesawat terbang, mobil, TV, dan lain-lain, sangat tidak masuk akal jika kita berkata semua itu terjadi dengan sendirinya. Pasti ada pembuatnya.

Jika benda-benda yang sederhana seperti korek api saja ada pembuatnya, apalagi dunia yang jauh lebih kompleks.

Bumi yang sekarang didiami oleh sekitar 8 milyar manusia, keliling lingkarannya sekitar 40 ribu kilometer panjangnya. Matahari, keliling lingkarannya sekitar 4,3 juta kilometer panjangnya. Matahari, dan 9 planetnya yang tergabung dalam Sistem Tata Surya, tergabung dalam galaksi Bima Sakti yang panjangnya sekitar 100 ribu tahun cahaya (kecepatan cahaya=300 ribu kilometer/detik!) bersama sekitar 100 milyar bintang lainnya. Galaksi Bima Sakti, hanyalah 1 galaksi di antara ribuan galaksi lainnya yang tergabung dalam 1 “Cluster”. Cluster ini bersama ribuan Cluster lainnya membentuk 1 Super Cluster. Sementara ribuan Super Cluster ini akhirnya membentuk “Jagad Raya” (Universe) yang bentangannya sejauh 30 Milyar Tahun Cahaya! Harap diingat, angka 30 Milyar Tahun Cahaya baru angka estimasi saat ini, karena jarak pandang teleskop tercanggih baru sampai 15 Milyar Tahun Cahaya.

Bayangkan, jika jarak bumi dengan matahari yang 150 juta kilometer ditempuh oleh cahaya hanya dalam 8 menit, maka seluruh Jagad Raya baru bisa ditempuh selama 30 milyar tahun cahaya. Itulah kebesaran ciptaan Allah! Jika kita yakin akan kebesaran ciptaan Tuhan, maka hendaknya kita lebih meyakini lagi kebesaran penciptanya.

Dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan langit, bintang, matahari, bulan, dan lain-lain:

“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.” [Al Furqoon:61]

Ada jutaan orang yang mengatur lalu lintas jalan raya, laut, dan udara. Mercusuar sebagai penunjuk arah di bangun, demikian pula lampu merah dan radar. Menara kontrol bandara mengatur lalu lintas laut dan udara. Sementara tiap kendaraan ada pengemudinya. Bahkan untuk pesawat terbang ada Pilot dan Co-pilot, sementara di kapal laut ada Kapten, juru mudi, dan lain-lain. Toh, ribuan kecelakaan selalu terjadi di darat, laut, dan udara. Meski ada yang mengatur, tetap terjadi kecelakaan lalu lintas.

Sebaliknya, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain selalu beredar selama milyaran tahun lebih (umur bumi diperkirakan sekitar 4,5 milyar tahun) tanpa ada tabrakan. Selama milyaran tahun, tidak pernah bumi menabrak bulan, atau bulan menabrak matahari. Padahal tidak ada rambu-rambu jalan, polisi, atau pun pilot yang mengendarai. Tanpa ada Tuhan yang Maha Mengatur, tidak mungkin semua itu terjadi. Semua itu terjadi karena adanya Tuhan yang Maha Pengatur. Allah yang telah menetapkan tempat-tempat perjalanan (orbit) bagi masing-masing benda tersebut. Jika kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, tentu kita yakin bahwa Tuhan itu ada.

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus:5]

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa Siin:40]

Sungguhnya orang-orang yang memikirkan alam, insya Allah akan yakin bahwa Tuhan itu ada:

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d:2]

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [Ali Imron:191]

Terhadap manusia-manusia yang sombong dan tidak mengakui adanya Tuhan, Allah menanyakan kepada mereka tentang makhluk ciptaannya. Manusiakah yang menciptakan, atau Tuhan yang Maha Pencipta:

“Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” [Al Waaqi’ah:58-59]

Pohon

“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?”[Al Waaqi’ah:63-64]

“Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?” [Al Waaqi’ah:72]

Di ayat lain, bahkan Allah menantang pihak lain untuk menciptakan lalat jika mereka mampu. Manusia mungkin bisa membuat robot dari bahan-bahan yang sudah diciptakan oleh Allah. Tapi untuk menciptakan seekor lalat dari tiada menjadi ada serta makhluk yang bisa bereproduksi (beranak-pinak), tak ada satu pun yang bisa menciptakannya kecuali Allah:

“…Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” [Al Hajj:73]

Sesungguhnya, masih banyak ayat-ayat Al Qur’an lainnya yang menjelaskan bahwa sesungguhnya, Tuhan itu ada, dan Dia lah yang Maha Pencipta.

Video Bukti Tuhan itu Ada:

Video Bukti Kebesaran Allah:

Silahkan baca juga:

Tuhan itu Satu!

Siapa Tuhan Kita?

Sumber:

http://media-islam.or.id/2007/09/06/bukti-tuhan-itu-ada

129 comments to Bukti Tuhan itu Ada

  • Dialam 3 dimensi aja kita sudah dapat membuktikan adnya tuhan, apatah lagi mendaki ke dimensi 9 seperti yang dilakukan Nabi saw…

  • Subhanallah.. Artikel yang sangat menggugah! Mengingatkan saya untuk tidak sombong dan kembali mendekat kepada-Nya! Semoga, siapapun yang membaca artikel ini akan juga tergugah menyadari keberadaan Allah SWT., dimanapun, kapanpun.
    Terima kasih

  • m.ridwan

    bulu kuduk saya merinding membaca artikel ini, saya yakin kalu Tuhan itu benar-benar ada

  • ratna farida

    sejak kecil saya percaya bahwa Tuhan itu ada dan selalu bersama kita! Pada suatu ketika waktu saya masih duduk dikelas SEKOLAH DASAR, saya mempunyai anjing kecil lucu sekali dan saya sangat sayang pada anjing itu, tetapi sayangnya kakak saya tidak menyukainya karena sering mengigit gigit sepatunya sampai rusak. Suatu ketika saya pulang sekolah saya tidak menemuinya dan kata ibu saya mungkin keluar kejalan dan diambil orang. Pada saat saya tidur, saya mendengar ibu saya cerita ke kakak saya kalau anjingnya sudah dimasukkan karung dan dibuanag jauh sekali, tidak akan bisa kemabli. Saya hanya menangis dan berdoa sepanjang hari kepada ALLAH agar anjingku bisa kembali kesaya. Setelah beberapa hari ternyata anjingku sudah ada dalam rumah dan menunggu saya pulang sekolah didepan pagar. Sejak saat itu saya percaya sekali bahwa Tuhan itu ada dan Maha Pendengar. Hingga saat ini saya percaya hanya ALLAH lah yang bisa menolong saya dalam keadaan kritispun dan saya mengalami banyak kejadian2 kebesaran ALLAH. ALLAHU AKBAR!

  • Bambang Kusworo

    “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [Ar Ra’d:2] …..

    Just comment : Alloh SWT tidak menempat di arsy,.. jadi lebih baik …. “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, Dialah yang menguasai `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” . [Ar Ra’d:2] …..
    Dzat Alloh SWT hanya Alloh SWT yang tahu,… Alloh SWT tidak butuh mahluq,.. Asry adalah mahluk,… jadi bagaimana Alloh bisa menempat di Arsy …? ….
    Ini hanya sekedar pemahaman saya,… yang saya peroleh dari guru guru saya …. jika kurang berkenan mohon maaf….

    Bambang K

  • nizami

    Pak Bambang,
    Al Qur’an itu diturunkan dalam Bahasa Arab (Az Zukhruf 3). Jadi hendaknya kita menterjemahkannya sesuai dengan aturan bahasa Arab. Para ahli bahasa entah di Depag mau pun di Tim Al Qur’an Kerajaan Arab Saudi menterjemahkan kalimat “Tsumma stawa” dengan “Kemudian Bersemayam”. Beda dengan Yamluk yang artinya Menguasai.

    Adakah ini berarti Allah sama dengan makhlukNya?
    Tidak.
    Di Al Qur’an Allah juga disebut Melihat (Al ‘Alaq 14). Adakah Allah melihat seperti manusia. Tidak.

    Di Al Mujaadilah ayat 1 juga disebut Allah Mendengar (Sami’allahu).

    Untuk itulah kita perlu mempelajari Sifat Allah: Mukhollafatuhu lil Hawaadits. Allah berbeda dengan makhluknya.
    Bersemayamnya Allah beda dengan bersemayam makhlukNya sebagaimana melihatnya Allah itu beda dengan cara melihat makhlukNya.

    Allah selalu melihat, penglihatan Allah bisa menembus kulit bumi, dapat melihat semut hitam berjalan di atas batu hitam di malam yang kelam. Jadi sangat berbeda.

  • Tuhan itu ada… ya memang ada..

  • [...] http://media-islam.or.id/2007/09/06/bukti-tuhan-itu-ada Share this:TwitterFacebookLike this:LikeBe the first to like this post. [...]

  • Aisy

    Memang Allah benar2 ada. Dengan melihat kejadian alam di sekeliling kita, itu merupakan bukti ke-Mahakuasaan-Nya.

  • Subhanallah…. penyampaian seperti ini yang harus nya banyak kita pelajari… mudah2an yang menganggap Tuhan itu tidak ada menjadi mempelajari dan menyadirinya, yang menganggap Tuhan itu lebih dari Satu juga mudah2an mempelajari dan menyadarinya,, Amin

  • Allahu Akbar,tiada tuhan selain Allah.

  • Khsunan Fadli

    MasyaAlloh…..

  • Assalamu’alaikm y ustadz..
    saya sangat tertarik dg artikel ini.. mohon izin untuk saya posting d blog kami, demi syi’ar islam… syukron jazilaa !!

  • Edy S

    SubhanAllah Maha Suci Allah, Allohu Akbar…..

    Mohon ijin Share ya Pak Ustadz.

    Terima kasih
    Wassalam

  • tiada tuhan selain Allah….hy Allah yg mh pencipta n mha segala-galaya…..you.are ALLAH CHOSEN ONE

  • kalo secara logika bisa ga dibuktikan..

    yg diatas kan secara iman..

    merujuk kepada kausalitas , Tuhan itu gugur..

    ada ga cara yg bisa menggurkan kausalitas?

    kausalitas vs termodinamika juga tidak menggurkan kausalitas..

    akan semakin kuatlah iman jika logika juga membuktikan..

    maka kita akan keluar dari bayang bayang beragama karena faktor keturunan…

    • nizami

      Sesungguhnya sebab dan akibat/kausalitas itu adalah logika juga.
      Misalnya tidak mungkin jika kita bilang komputer/laptop yg kita pakai terjadi dgn sendirinya. Karena mereka begitu teratur dan rumit untuk ada begitu saja tanpa ada pembuatnya.
      Nah manusia itu jauh lebih kompleks dan teratur dari komputer. Tentu ada yg membuat manusia. Siapa yg membuatnya? Jelas bukan manusia. Karena manusia membuat lalat saja tak mampu. Yg membuat manusia adalah Allah. Begitu pula dgn sistem Tata Surya, Alam Semesta, dsb di mana matahari dan bulan tidak pernah bertabrakan meski milyaran tahun mereka terbang dgn kecepatan ribuan kilometer per jam. Begitu pula dengan trilyunan bintang lainnya.

      Yang jadi pertanyaan kan: kalau semua ada penciptanya, yaitu Allah, lalu siapa yang menciptakan Allah?
      Nah pertanyaan itu tidak menggugurkan adanya Tuhan/Allah.

      Dalam hal itu Allah menegaskan bahwa Allah itu tidak dilahirkan atau diciptakan. Itulah beda Makhluk (yang diciptakan) dengan Kholiq (yang Maha Pencipta). Jika timbul pertanyaan itu, Nabi menganjurkan kita untuk mengucapkan: Amantu billah. Aku beriman kepada Allah.
      Itu saja.
      Mohon maaf jika tidak bisa lama-lama berdiskusi, soalnya banyak debat/diskusi juga tidak dianjurkan dalam Islam.

  • mari kita diskusi pak ustadz

    yg diatas saya salah bikin url
    kunjugi blog saya

    terima kasih

  • Ahmad Sholihin

    Allah itu pasti ada……Allahu Akbar……Subhanallah

  • Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad Adalah Utusan Allah. Allahu Akbar

Tinggalkan Balasan